Yeeiy, Liburaaan!

Posted: February 11, 2013 in Shout of Soul

Beneran kayak mimpii, akhirnya bisa liburan *dalam arti sebenar-benarnya. Ke tempat yang jauhh, yang gak kepikiran apa-apa, yang di tempat baruu, dan seru lah yaa… Meskipun berdampak pada jet-lagnya suasana kampus saat pulang, tapi paling tidak dalam biografi besok bisa menulis: pernah liburan *lebaii*

Satu Jam Menuju Bali

Serunya adalah nahkodanya asik banget, jadi kita dibolehin lihat cara kemudinya 😀

Jadi begitulah, akhirnya tercapai juga tuh impian saya dkk untuk pergi ke Bali. Niat sebenarnya sih mau ke Lombok tapi berhubung waktu dan dana yang tidak meridhoi, maka dengan ikhlas hati kami terdampar di Bali aja… *haha

4 dari 7 orang yang ikut ternyata gak bawa KTP. Lemess total kalok bayangin mesti balik ke Jawa, setelah 14 jam Jogja-Bali. Tapi setelah debat puaanjang dari kurangnya sosialisasi sampai Gayus (*sempet2nyaaa -,-) akhirnya kamii loloss! *bigapplause 😀

Image

Sanur for Sunrise: cloudy and rainy but 🙂

 

Image

Kuta! Sunset! Lifetime Friends!

Image

Patung Kuda dekat Bandara Ngurah Rai: Enchanting!

 

Advertisements

Never Ending Struggle

Posted: January 10, 2013 in Shout of Soul

Hari-hari ini, soundtrack hidup saya adalah D’Massiv: Jangan Menyerah. Selalu terngiang-ngiang, “jangan menyerah… jangan menyerah… jangan menyerah….”

jangan menyerah pada nafsu yang menghalangi niat kebaikan

jangan menyerah pada malas yang menahan daya ledak

jangan menyerah pada masa lalu yang tertoreh kegagalan

jangan menyerah pada lelah yang menahan punggung lekat bersandar

jangan menyerah pada marah yang terhembus dari cibiran dan cemoohan

jangan menyerah pada rasa tidak mampu yang semakin menjerat pada kegagalan

jangan menyerah, nad… Jangan pernah…

 

teringat ku teringat… pada janjiMu ku terikat… 

 

Image

Sorry.

Posted: January 7, 2013 in Shout of Soul

Image

Mungkin suatu saat engkau akan membaca ini

Hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, dengan sangat

Aku memikirkanmu, hidupmu, dan apapun yang aku pernah tahu tentangmu

semua membuatku berhenti berkata-kata

membuatku merasa tak cukup punya daya

apalagi kutahu kau pasti menganggapku membual

membuatku merasa semakin tersudut dan tak berarti

 

di saat kau begitu peduli dan memikirkan seseorang, ia berpaling dan mengataimu pembual…

hm.. sejujurnya itu.

menyakitkan.

 

tapi tak apa. ini semua juga karena aku tak punya cukup daya untuk membuktikan

hingga seolah bagimu ini semua omong kosong belaka.

hingga aku merasa… “aku yang selalu beralasan, dan engkau yang selalu memahami..”

 

atau apakah aku tidak tahu bagaimana cara mencintai… cara mencintaimu?

engkau yang begitu kuat, Allah begitu menyayangimu

engkau yang begitu tangguh, Allah begitu  mempercayaimu

Seharii sajaa… aku ingin bersamamu…. can we? 🙂

i want to put a smile on your face everyday.

Masih Asik Kok *giggle

Posted: December 28, 2012 in Shout of Soul

Image

Ukhuwah itu gimana yaa? Allah sedang banyak membelajarkan tentang kelapangan hati. Entah saat  berinteraksi, atau saat terdiam dan menyadari. Orang-orang yang dulu kita hargai dengan kedahsyatan segala macamnya, lalu Allah tampakkan sisi-sisi kurangnya. Pliss, itu tuh rasanya… aaarghh banget! Karena sebagaimana aku terkagum pada sisi baiknya, aku pun ‘terkagum’ pada sisi buruknya. “Kok issooo… bisa-bisanya….” >>maksude kaget. Bagusnya kebangetan, buruknya pun kebangetan. *choke myself!

Ya apalagi kalau bukan tentang kelapangan hati. Lapang mencintai saudara kita apa-adanya. Sebelum amanah menyatukan, sebelum kenal mengeratkan, sebelum pertengkaran tercetuskan, sebelum kenangan tercatatkan, dan sebelum yang lainnya, dia adalah saudara kita… dan karenanya berhak untuk kita cintai apa-adanya. Mau dia keren, mau dia egois, mau dia nyebelin, mau dia dengerin…apa aja dah… Ituuh sodara kamu! Meski lebih seringnya aku bersikap, yaudasii tserah loe dahh, tapi ya segimana juga kadang geregetan pingin nampol dia. Haghag..

Hehe, udah ah, anggap enteng aja… Allah yang akan mentarbiyahnya, biar mantep skalian pelajarannya. Ane yang doain aja dehh >DA

Taklif bukan Takrim

Posted: December 28, 2012 in Shout of Soul

Anak-anak sudah berangkat tae kwo ndo dengan keceriaan masing-masing. Tingkah mereka sungguh merindukan. Suara berisik mereka, kekanakan mereka, kamarku yang terjajah nyaris tiap malam, dan berbagai celoteh ribut tentang aktivitas mereka seharian. Betapa aku mencintai mereka.

Entah sudah berapa malam kulewati dengan tatapan lurus ke langit-langit, memandang lurus dan menembusnya seolah itu adalah masa depanku. Menebak apa selanjutnya sungguh mengerikan. Rasa ini semakin menguat saja. Antara ingin dan tidak ingin. Kuterabas masa depan itu dan kuingin tahu apakah di sana aku tertawa, atau tertegun datar tanpa suara, seperti saat ini.

Kututupkan lenganku di kedua mataku, tak ingin membayangkan…ah, bagaimana mungkin? Kuhabiskan minuman soda kaleng yang sengaja kubeli. Seperti iklan, minuman itu memberi sedikit kesegaran. Nafas yang berat, dan aku berpikir mungkin aku terlalu berlebihan memikirkan ini semua.

Ingin sekali kukatakan, sudah, jalani saja. Just relax, take it easy…begitu kata ronan keating. But I can’t. It just feels too real. Dan ini menyangkut tentang passion, cita-cita, dan mimpi yang harus terkorbankan.

 Yaa salaam, tolong jangan di saat seperti ini.

Tarbiyah maha dahsyat menanti, dan aku… speechless. *eyes closed

*kaget, ternyata saya bisa mellow juga, haghag

Fokus dan Stabil

Posted: November 26, 2012 in Shout of Soul

Seperti jargon kabinet ya? Haha… *mentang2 nuansa pemira

Kestabilan dan kefokusan adalah dua hal yang diperlukan dalam sebuah gerak. Kestabilan bukan dimaknai sebagai ke-statis-an atau bahkan ke-stagnan-an. Sebaliknya, kestabilan adalah kondisi dimana ia bisa bertahan dari segala anashir yang mengganggu geraknya. Ini tidak mudah. Ini membutuhkan energi. Entah kecil, entah besar, energi untuk bertahan dan melawan gangguan ini kadang justru menyita perhatian. Kestabilan ini mutlak harus dimiliki agar ia bisa bertahan,  paling tidak ia bisa selesai dengan dirinya sendiri.

Bergerak itu berubah, berganti, sebuah tanda kehidupan.

Kestabilan juga bukan berarti anti-dinamis dan berujung pada gerak yang monoton dan membosankan. Langkahnya pendek, perhitungannya dangkal, analisisnya asal. Kestabilan mengorbit dalam jalur bisa digambarkan layaknya planet yang dengan khusyuknya tetap beredar meski badai matahari menerpa atau bintang-bintang lewat berseliweran *bahasanya sok ngerti astronom.

Selain membutuhkan energi, bergerak itu juga berarti menuju ke satu titik, satu tujuan, dan ia meniscayakan peran dan tugas yang terbebankan. Bergerak tanpa tujuan bisa jadi malah hanya berputar-putar selama 40 tahun di gurun sinai..(lhoh, kok sampai sini?). Hehe, maaf, lanjut..

Namun bagi seorang muslim, dengan berbagai tugas yang dimiliki serta sedikitnya waktu yang tersedia, membuatnya tidak punya pilihan lain selain stabil dan fokus. Stabil bergerak dan fokus mencapai tujuan.

Terkadang cara terampuh untuk membuat kita stabil adalah dengan fokus itu sendiri. Apalagi untuk aliran kognitif yang menjadikan rasio lebih layak diperturutkan daripada perasaan. #eh.

Sibuk menstabilkan diri justru bisa menjebak pada keengganan bergerak. Bagaimanapun, anashir penghalang gerak itu akan selalu ada. Jangan sampai energi  kita habisa hanya untuk menstabilkan diri. Maka fokus pada tujuan bisa sangat membantu kita untuk terus mengarahkan langkah dengan tepat. Fokus dan stabil akan melahirkan kejernihan melihat persoalan.

Tarik nafas dulu… Bismillah…

Lanjutkan bergerak, siapapun!

Catat: 7 November 2012 :)

Posted: November 8, 2012 in Shout of Soul

Masih ingat betul bagaimana saya mengganti cover photo FB saya dengan tulisan besar: Februari. Hehe… Niatnya sih biar bisa wisuda feburari. Sampai apal banget kalo habis sholat doa sama Allah biar terkabul Februarinya. Tapi ya… begitulah indahnya… Sepertinya akan ada hal lain yang terjadi februari nanti, mungkin lebih indah daripada “sekedar” lulus UGM 😉

Jadi begitulah, skripsi saya digantung nyaris sebulan tanpa kepastian oleh DPS saya (*hwaaa). Saat kawan-kawan saya yang lain ke kampus buat kuliah S2, atau minimal udah pada ambil data, dan saya adalah masiiih… menunggu DPS (sing: aku menunggumu). Skripsi teman-teman yang lain di DPS yang sama sudah mendapat feedback bahkan ada yang sudah ketemu 2x, dan adalah saya belum apa-apa sama sekali. Maksudnya, kalau proposal dan semacamnya tentu sudah, tapi kerasa banget deh teorinya Vygotsky tentang scaffolding. Err, dalam belajar kita benar-benar membutuhkan sosok dewasa yang bisa membimbing kita. Anyway, akhirnya saya ketemu juga kemarin dengan beliau. Setelah ke Ternate, beliau sakit sepekan, vertigo.

Awalnya niat ke kampus ya Cuma buat cek apakah proposal saya—yang saya masukkan lewat sekretaris dekan—sudah ada feedback. Ehh, ternyata kata mbak sekdek, pak DPS nya—yang juga wadek III—lagi di ruangan. Nahh, jackpot! Akhirnya dengan sabar pun menunggu. Harus saya akui, track record saya dan beliau agak vis-à-vis. Hehee… Teringat dulu pernah poster saya dipajang besar sekali di kampus saat ada momen pemira. It was two years ago.. tapi bahkan poster dekan gak ada tuh yang dipajang segedhe itu di kampus. Hahaa APalagi memang saya merasakan sendiri bagaimana bapak DPS saya agak tidak sreg dengan gerakan mahasiswa dan semacamnya.

Iya, saya terlalu negative di awal. Eh ternyata pas ngobrol, bisa asik juga tuh. Lama di awal kami cuma membahas tentang vertigo, yang dulu juga pernah saya alami. Kesana kemari, akhirnya… “dah yuk, kita kembali ke bisnis kita…” skripsi. Dibahas lah dan diberi masukan.

Mungkin untuk beberapa mahasiswa yang heroic dengan gerakan kemahasiswaannya, sosok dosen di depan saya menjadi agak tidak disukai. Lalu saya perhatikan saja beliau membolak-balik proposal saya. Sambil saya berpikir, kira-kira bagaimana beliau memimpin keluarga? Bagaimana hubungannya dengan anak-anaknya, dan… seterusnyaa… Sampai saya berpikir, ada kalanya hati kita yang awalnya begitu benci pada orang, atau begitu cinta pada orang, bisa berubah drastic jika di suatu masa Allah bukakan satu sisi lain kehidupannya. Dan saya percaya, setiap manusia punya sisi-sisi berbeda yang membuat kita tidak boleh terlalu awal menghakimi bagaimana watak mereka.

Itulah mengapa saya termasuk orang yang sangat jarang punya ekspektasi pada orang. Manusia adalah makhluk dengan segala sisi dinamisnya. Sungguh sangat maklum, jika hari ini dia begitu mempesona, esok bisa jadi dia menyebalkan entah bagaimana.

Lalu, singkat yang terucap… “Ohh, baiklaah…” *sigh