Menuju Negeri Atas Awan

Posted: February 13, 2012 in Shout of Soul

Mengawali hari itu dengan sedikit bergegas. Spot pertama: Mardliyyah. Sangat berharap bisa datang ke kajian ustadz untuk sekedar memuaskan ketertinggalan pembahasan fiqh aulawiyat. Namun, ah, memang tak akan pernah habis jika terus memuaskan diri menimba ilmu dari beliau. Beberapa menit menuju pukul tujuh saya meninggalkan ruang A dan mencari peta menuju tempat ini… sebuah tempat yang nantinya saya sebut Negeri Atas Awan.

Setelah menyelesaikan beberapa urusan, saya dan teman sebangku saya saat SMA menuju tempat ini. Yeah, my ride is all the best! Tangguh sekali si hitam ini…zap…zap…zap… berayun dari sisi jalan ke tengah, lincah melewati lawan-lawannya yang berbadan jauh lebih besar. Big smile! Cukup menjadi sedikit sugesti positif bahwa sesungguhnya saya tidak terlalu antusias menuju tempat ini. Awalnya…

Lalu sampailah di spot kedua. Es krim dan berbagai jajanan masa SD membuat saya sedikit lebih bersemangat. Hm, ternyata sudah agak lama ya saya melewati masa-masa itu, masa di mana pelajaran olahraga selalu ada sekali sepekan, dan uang 2000 benar-benar bisa mengenyangkan. Perjalanan menuju spot ketiga. Jalan makin menanjak dan tulang saya mulai tergelitik. Dingin. Ah, jaket saya tipis, tanpa kaos tangan pula. Bersiaplah, Nad!

Persilangan Ketep Pass kami trabas keras. Lurus… naik… dan terus naik. Kawan saya yang saya bonceng berbisik, “nad, kayaknya salah jalan deh… Wonolelo arah ke bawah tadi…” Bisikan teman saya terkalahkan oleh indahnya pemandangan di atas sini. Oh, God, am I in heaven? Bahkan meski saya sadar saya tersesat, saya memilih untuk terus menyusuri jalan itu semata demi menyaksikan keindahannya. Kanan…Kiri… Cantiik! Hijau segar sayur-sayuran yang ditata sedemikian rupa, memanjakan mata yang sudah lama penat melihat kepadatan kota. Hawa segar menyapa lembut pipi saya, sedikit menggelitik dengan dinginnya. Feels like in Europe! Indah sekali tempat ini. Dan begitulah dunia bagi sebagian orang, terlalu indah untuk dinikmati hingga meski ia tersadar ia tersesat, ia akan tetap menyusurinya. Kami baru memutuskan berbalik arah setelah benar-benar tidak tega mengetahui betapa sudah jauhnya kami tersesat. Taubat.

Menyusuri lagi jalan Ketep Pass dan berbalik arah di persilangannya, lalu menurun ke bawah Ketep Pass. Jalanan berkelok naik and turun namun masih beraspal cukup menguji konsentrasi dan ketangkasan mengoper persnelling motor. Cukup lama kami menyusuri jalan ini hingga tibalah kami di spot keempat. Masjid Ibnu Mas’ud yang jika kita lurus sedikit saja, maka sudah sampai di Boyolali. Di sini segala barang bawaan berat diturunkan dan dinaikkan ke pick up. Orang-orang heboh menyuarakan bahwa tadi belum apa-apa jika dibandingkan dengan perjalanan yang akan kami tempuh setelah ini. Hm, oke…(meluruskan sendi, bersiap).

Maka perjalanan dimulai kembali. Lupakan gigi 3, hanya ada 1 dan 2. Saya katakan pada teman yang saya bonceng, “tugasmu, menyapa warga!” dan saya akan berfokus ke depan. Track misterius ini diawali dengan tanjakan tajam di kampung warga. Saaap, tajam kiri… lalu kanan… naik… naik… naik… dan oh ya… jalan berbatu! Entah bagaimana menggambarkannya, tapi belum juga tiga menit saya melewati track ini, tangan saya sudah kebas. Saya belum pernah mencengkram motor saya sekuat ini, menahan laju liarnya melawan batu-batu dan track naik. Dalam hati, ada baiknya juga ini jalan batu, coba bukan jalan batu, udah pastilah tergelincir. Hanya ada satu tempat di bawah: jurang. dan tangan saya benar-benar kebas.

Entah berapa lama kami melewati track panjang naik dan berbatu itu, namun bahkan ketika kami melepas nafas lega karena telah melewati track itu, ternyata track selanjutnya lebih menguras tenaga dan pikiran. And my ride is all the best! Beberapa kawan saya terpaksa berhenti di tengah jalan karena motornya macet mendadak. Ada yang bocor ban, ada yang sampai bau kebakar (sumpah ngeri banget!) atau minimal teman yang ia bonceng harus terpaksa turun dulu. ALhamdlillah tak satupun dari itu terjadi pada saya. Itu adalah saat pertama bagi saya mengendarai motor dengan menggunakan gigi 1 sepenuhnya. Jalan kecil berliku, naiiik, dan godaan mata jelas terbentang… pemandangan indah… mm, tidak, sangat sangat indah. Tapi saya sudah belajar hakikat dunia dari insiden Ketep Pass tadi, jadi saya bisa memastikan untuk stay fokus!

Naik dan terus naik.. Konsen dan terus konsen, hingga kami berbelok ke rumah pak dusun Batur, Wonolelo.

Hello, world! Jika perjalanannya sedahsyat itu, maka tak pelak lagi, negeri atas awan ini pasti lebih dari sekedar dahsyat.

and my life has just been restarted…

*to be continued

Comments
  1. tyaa says:

    Feels like in Europe! Indah sekali tempat ini. –> hahahaha… =))

    so you already know why i loooove mountaineering so much!
    *asik bisa ngajak km tracking habis ini. YIPPIIIE! \(^o^)/

  2. nadz says:

    oh i’d like to see you try! :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s