
Matanya berbinar saat bercerita kisahnya. Dan saya–seperti biasa–terpukau padanya. Lama tidak berjumpa dan saat bertemu dia menceritakan suksesnya pada saya. Alhamdulillah, saya tidak pernah tidak bangga menjadi temannya. Umii, bagiku kau hebat!
Setelah lulus dengan waktu yang ekspress, dengan usia belum genap 21 tahun, belum juga diwisuda, dia sudah dapat kerja di perusahaan nasional ternama, dengan berbagai fasilitas dari layanan antar-jemput, salary yang cukup tinggi, kesempatan muter-muter Indonesia, dan pastinya pengalaman yang sayayakin akan luar biasa, hampir-hampir tak ada keresahan lagi mungkin dalam hatinya. Itupun dia masih punya satu panggilan wawancara di perusahaan nasional yang amat prestise. Begitulah kisah suksesnya.
Saya tertegun. Teringat perbincangan dengan beberapa kawan selepas makan siang di kantin. Dia yang sedang menempuh S2 menceritakan kisahnya melamar kerja, lika-liku menjual diri (in a positive way), dan bagaimana kuliah S2nya. Dia mengingatkan, “Segera tentukan langkah, dan kejarlah!”
Lalu apa yang sebenarnya saya inginkan?
Saya bukan tidak tahu apa yang saya inginkan. Namun saat mendengar cerita sukses teman saya, saya berpikir betapa sederhananya mimpi saya.
Menjadi istri yang menentramkan. Menjadi rahmat bagi tetangga. Menjadi teladan bagi sekitar. Menjadi guru Al Quran. Menjadi murabbi. Menjadi ibu yang membanggakan.
Menjadi yang kreatif, yang pandai memasak, yang berakhlaq, yang berilmu dan yang membagi ilmu, yang dapat diandalkan, yang dimintai bantuan, yang dimintai nasihat, yang ringan berbagi, yang… Sederhana bukan? Hal-hal kecil mungkin. Namun sungguh, itu sangat luar biasa bagi saya. Investasi sukses, tidak hanya di sini. Namun juga di sana nanti.
Bukan saya tidak mau bekerja. Saya pernah bermimpi ingin bekerja di pemerintahan, di kementrian, menjadi dosen, konsultan pendidikan, trainer bahkan. Namun jika kemudian terbayang waktu yang harus saya habiskan di luar rumah dengan tuntutan profesionalitas dengan akder toleransi yang sedikit, lalu ditambah bahwa saya akan kehilangan banyak momen penting dalam hidup saya, ah… rasa-rasanya saya tidak siap untuk itu. Apalagi jika harus sampai terjebak pada rutinitas sampai hilang nafas. Mengejar yang pasti, melalaikan yang belum terdefinisi. Mengejar dunia, melalaikan akhirat. Ah, ini lebih mengerikan lagi.
Kini, yang menarik di mata saya hanya satu: MENGAJAR! Menjadi guru! Pekerjaan apa yang lebih mulia dari itu? Aliran amal jariyah tanpa putus, menanamkan hal-hal fundamental yang pokok, ah itu luar biasa! Kesempatan singkat mengajar kelas Al Quran di SD Islam beberapa saat lalu mengingatkan masa-masa indah SMA saya saat mengajar anak-anak SD dulu. Dari mereka yang mampu dan berprestasi, hingga mereka yang amat kekurangan sumber daya. Kisah-kisah akar rumput yang tak pernah bisa membuat saya berpaling dari kata mengabdi dan melayani; mendidik dan membina.
Anak-anak adalah keajaiban.Yang tatapan matanya kuat, yang berenergi, yang memanggil saya ustadzah, yang penuh semangat tinggi, dan mereka pulalah yang akan melanjutkan generasi ini. Membayangkan ada nama saya di daftar atas idola mereka adalah prestasi yang membanggakan.
Lalu tatapan-tapan mereka yang haus ilmu Allah, duduk melingkar mendengarkan, bertanya dan mengangguk, bersama mengingatiNya, bersama membincang umat.
Atau saat saya yang menjadi bagian dari tatapan-tatapan itu. Mendengarkan sang ‘mbak’. Membetulkan hafalan, belajar dari kisah mereka, dan hampir tiga tahun bersama beliau, saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih.
Atau saat membetulkan makhorijul huruf mereka. Termotivasi kisah mereka-mereka yang menjadi pejuang Qur’an, manisnya menjemput khusnul khotimah dengan memeluk mushaf di dada setelah mengkhatamkan pada bulan Ramadhan. Merinding!
Hal-hal kecil yang penuh makna itulah yang tidak bisa saya tinggalkan.
Jadi kawan, ayo berjuang untuk masa depan kita di sini. Kita akan bertemu kembali, kelak di surgaNya sana… ^^

masya Allah..meet you here unintentionally Nad
ameen.. smoga nad
#Sedang mengumpulkan inspirasi dari para teman