Banyak sekali hal tak terduga saat aku berhadapan dengan mereka,.
Perjalanan penuh makna (?) dari Jogja ke Klaten…
Kalau sedang beruntung, saya bisa dapet boncengan motor dengan salah satu kakak saya (kakak kandung saya satu, yang lain nasab Islam). Tapi kalau Allah menakdirkan saya jadi penyalur rizki buat para sopir bis, yaa saya harus naik bis. Gerah. Panas. Berisik.
Kalau naik motor, saya harus banyak2 berterima kasih pada Allah SWT yang Maha Baik, yang selalu menyelamatkan jiwa saya dalam perjalanan itu. Kakak2 saya biasanya (atau seringnya) tak pernah memacu motor di bawah 80 km/jam (dasar akhwat belum nikah!) Ngerasa gag punya tanggungan gitu. Padahal ada sesosok manusia yang nangkring di belakangnya ketar-ketir. Manusia ini–yang kemudian diidentifikasi bernama Nadia–biasanya selalu dalam kondisi ngantuk di perjalanan. Tak jarang matanya tak bisa dibuka sama sekali. Horoor! Tapi alhamdulillah, Allah masih berkenan menyelamatkan jiwa saya.
Anyway…
Bukan itu yang ingin saya sampaikan. Segala kelelahan–baik itu yang didapat dari bis kota ataupun motor roda dua–segera saja terbayar lunas ketika sampai di tempat tujuan. yaitu surga belajar Klub MBC (baca: kantor Klub MBC).
Mm.. sebenarnya bukan kantornya yang bikin sumringah, tapi penghuni2nya. Eits,.. yang saya maksud jelas bukan bapak direktur dan kawan setianya. tapi para mujahid muda di sana. yang saya maksud adalah anak2 SD yang–mm, let’s say–ikut bimbingan di tempat kami…
Subhanallah, semangatnya mereka. Saya jadi sadar bahwa tak bisa serta merta saya katakan bahwa saya lelah, kecapekan, dan sederet keluhan cengeng lainnya. Mereka juga lelah. Anak2 bersemangat itu punya jam belajar di sekolah sampai setengah empat sore. dan jam empat mereka sudah harus bersama dengan kami.
Tapi tak sedikitpun kulihat gurat kelelahan itu di mata mereka. Masya Allah. Kebanyakan dari mereka adalah murid Sekolah Dasar Islam. Semangat mereka luar biasa. Saat kutanya sampai di mana hafalan Qur’an mereka, aku hanya bisa malu dan sekaligus tambah bersemangat.
Ah, jiwa-jiwa muda itu… Merekalah yang kelak akan mengangkat tegak panji2 Islam. Tak kupungkiri bahwa kadang aku juga kesal melihat kenakalan mereka. Rengekan mereka kadang juga bikin jengah. Apalagi jika aku sudah over-dosis stress, rasanya tak ada lagi sabar dalam hatiku. Aku benci marah pada anak kecil, jadi aku diam saja. Sampai mereka sendiri-atau salah satu di antara mereka-sadar bahwa tindakan mereka tidak pantas. Jika sudah begitu mereka akan diam dan itu benar-benar menyurut kemarahanku.
Pernah dulu kutegur mereka dan mereka–wow, aku sendiri juga gag tahu–benar2 mau mendengarkanku. Hahaha… konyolnya…
Ya Allah, peliharalah semangat juang mereka. Agar termanifestasi selalu di jalanMu… amin..,

. .assalamu’alaikum..
. .nadia!^^
. .wah,subhanallah.saia setuju dgnmu,Nad.sungguh tidak sepantasnya qt mengeluh dlm titian jalan cinta ini.karena dibalik lelah dan jengah yang terkadang singgah,ada harapan besar u/ kebangkitan ummat..u/ tegaknya dienullah.smwg qt termasuk orang2 yg beristiqamah di jalan cinta para pejuang cinta Pemilik Cinta (hhee…). .
. .(always) ana ukhibbuki fillah. .^^
with love,
your kungfu panda (ahaha)
P.S.
“aku diajari nge-blog dumz!lagi wae lekas ik”
wa’alaikumussalam uzzy nguwing2…
sipp,… tetap semangaat yuuk di jalan cinta ini…
meski berombak,berbuih, berbatu, berduri, berkabut, beronak, opo maneh?
yaah, intinya mari bangkit bersama untuk Islam yang lebih baik!! Harapan itu Masih Ada… (andalanne kata2 iki…)
Mari lebih menjadi orang yang BERSIH, PEDULI, dan PROFESIONAL!!
astaghfirullah… betapa alaynya gaya bicara ana pd zaman purba, ukh!
nangis. nangis.