berbekal ilmu… iman yang mendalam…
mungkin tidak banyak di antara kita yang benar2 sudah khatam membaca shiroh nabawy dari awal hingga akhir. Akui saja, bahasanya “kalah jauh” dengan bacaan macam Tere Liye atau Andrea Hirata. Memang bukan untuk sastra saya kira, karena jika bicara kisah, maka tak ada buku yang lebih layak dibaca selain shiroh nabawiyah.
bahasanya yang berat terkadang membuat kita lebih cepat terlelap daripada tershibghoh… haha… itu baru dari segi bahasa. dari segi konten, ah masa iya sih ada orang2 kayak sahabat gini, yang meski sholihnya luar biasa namun kekayaannya juga tak bisa dibilang sedikit… teringat saya pada ibu saya yang beberapa waktu lalu saya beri buku tentang kisah hidup bu Yoyoh. Taukah apa komentar ibu saya? …ah masa iya ada orang kaya gini? jangan2 cuma buat baik2in PKS aja…
saya hanya tersenyum. Sepertinya jarak kita dengan para shahabat bukan lagi berbilang waktu dan tempat tapi juga pada keyakinan..dan keinginan meniru mereka.
Maka tak perlu saya jelaskan bahwa kami bukan orang yang mengejar pujian orang. Begitulah hikmah yang bisa kita ambil dari bunda Yoyoh. Bagaimana maut menjemputnya cukuplah membuat kita terkagum sekaligus tersenyum pahit, “bagaimanakah akhirku kelak?”
back to shiroh…
Saya sendiri takjub bahwa ternyata nuansa hidup di shiroh nabawiyah itu ternyata tidak mustahil terwujud di masa sekarang. Yang lebih luar biasa lagi: mereka dulu dibersamai Nabi dan kini sosok Muhammad ‘hanya’ kita dengar lewat kisah dan selebihnya taken for granted bahwa dia adalah manusia paling baik yang pernah ada.
Generasi Shahabat itu.. Saya melihatnya. Saya menyaksikannya. Dan saya berproses, saya ulangi, berproses! bersama mereka. Siapa tidak suka, melihat orang cerdas? Yang analisisnya matang, yang pandai beretorika, yang pandai memimpin?
Siapa tidak suka, dekat dengan orang yang peduli, hatinya selembut awan, dan bahunya siap meringankan bahu-bahu lain?
Siapa tidak suka, melihat orang yang diamnya adalah emas dan bicaranya adalah permata?
Siapa tidak suka melihat orang yang IPnya tinggi tapi cerdasnya adalah mencerdaskan?
…dan dalam keluarbiasaannya itu, mereka adalah orang yang selalu berusaha menjaga tilawahnya, menjaga Qiyamul Laylnya, bersemangat mencari ilmu.. saya tahu benar bagaimana ketulusan mereka dalam membangun. Di balik kedahsyatannya di lapangan, ia berusaha keras menjaga hafalannya. Syiar mereka: “betapa inginnya kami agar mereka tahu bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri” … Ini tentang mereka!
Di tengah gempitanya para pemuda sekarang, orang-orang macam tadi sungguh mengingatkan saya pada generasi para shahabat… oke, memang tidak semurni para shahabat, tapi ada satu hal yang sama dari dua generasi ini…
“cita-cita mereka yang kokoh: meninggikan kalimatullah”




