Dua Generasi

Posted: January 26, 2012 in Shout of Soul

berbekal ilmu… iman yang mendalam…

mungkin tidak banyak di antara kita yang benar2 sudah khatam membaca shiroh nabawy dari awal hingga akhir. Akui saja, bahasanya “kalah jauh” dengan bacaan macam Tere Liye atau Andrea Hirata. Memang bukan untuk sastra saya kira, karena jika bicara kisah, maka tak ada buku yang lebih layak dibaca selain shiroh nabawiyah.

bahasanya yang berat terkadang membuat kita lebih cepat terlelap daripada tershibghoh… haha… itu baru dari segi bahasa. dari segi konten, ah masa iya sih ada orang2 kayak sahabat gini, yang meski sholihnya luar biasa namun kekayaannya juga tak bisa dibilang sedikit… teringat saya pada ibu saya yang beberapa waktu lalu saya beri buku tentang kisah hidup bu Yoyoh. Taukah apa komentar ibu saya? …ah masa iya ada orang kaya gini? jangan2 cuma buat baik2in PKS aja…

saya hanya tersenyum. Sepertinya jarak kita dengan para shahabat bukan lagi berbilang waktu dan tempat tapi juga pada keyakinan..dan keinginan meniru mereka.

Maka tak perlu saya jelaskan bahwa kami bukan orang yang mengejar pujian orang. Begitulah hikmah yang bisa kita ambil dari bunda Yoyoh. Bagaimana maut menjemputnya cukuplah membuat kita terkagum sekaligus tersenyum pahit, “bagaimanakah akhirku kelak?”

back to shiroh…

Saya sendiri takjub bahwa ternyata nuansa hidup di shiroh nabawiyah itu ternyata tidak mustahil terwujud di masa sekarang. Yang lebih luar biasa lagi: mereka dulu dibersamai Nabi dan kini sosok Muhammad ‘hanya’ kita dengar lewat kisah dan selebihnya taken for granted bahwa dia adalah manusia paling baik yang pernah ada.

Generasi Shahabat itu.. Saya melihatnya. Saya menyaksikannya. Dan saya berproses, saya ulangi, berproses! bersama mereka. Siapa tidak suka, melihat orang cerdas? Yang analisisnya matang, yang pandai beretorika, yang pandai memimpin?

Siapa tidak suka, dekat dengan orang yang peduli, hatinya selembut awan, dan bahunya siap meringankan bahu-bahu lain?

Siapa tidak suka, melihat orang yang diamnya adalah emas dan bicaranya adalah permata?

Siapa tidak suka melihat orang yang IPnya tinggi tapi cerdasnya adalah mencerdaskan?

…dan dalam keluarbiasaannya itu, mereka adalah orang yang selalu berusaha menjaga tilawahnya, menjaga Qiyamul Laylnya, bersemangat mencari ilmu.. saya tahu benar bagaimana ketulusan mereka dalam membangun. Di balik kedahsyatannya di lapangan, ia berusaha keras menjaga hafalannya. Syiar mereka: “betapa inginnya kami agar mereka tahu bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri” … Ini tentang mereka!

Di tengah gempitanya para pemuda sekarang, orang-orang macam tadi sungguh mengingatkan saya pada generasi para shahabat… oke, memang tidak semurni para shahabat, tapi ada satu hal yang sama dari dua generasi ini…

“cita-cita mereka yang kokoh: meninggikan kalimatullah”

:)

ini untukmu…

Posted: January 26, 2012 in Shout of Soul

belum sadar jugakah kau bahwa aku sangat mencintaimu? ada namamu dalam doaku… dan tanyakan padaNya betapa aku merindukanmu… gemetar kadang mengingatimu… salahku kah membiarkanmu pergi? atau memang di masa dulu aku belum pandai berbincang denganmu. Aku ingin kau di sini…

sering aku termangu dalam semangatku… dan bertanya… “mengapa tak kulihat engkau di sini?” atau tiba-tiba terdiam, dan berbisik padamu, “tidakkah kau tahu bahwa di sini sangat luar biasa? kemarilah…”

…maaf…

It is really never-ending… ;)

Posted: October 18, 2011 in Shout of Soul

jika ada kata lain di atas “syukur”, maka itu akan saya gunakan untuk mendeskripsi hidup saya saat ini.

ini semua terasa begitu membeludak! It’s like never-ending. and yes, it is.. it is really never-ending. I feel like overwhelmed! saya tidak tahu mana dulu yang harus dipikirkan. kepala ini penuh dengan hal-hal yang harus diselesaikan. menyusun ini, merancang itu, melaksanakan ini, bertemu dia, berdiskusi dengan mereka, dan seterusnya. dan di saat kawan-kawan saya berkutat setiap hari di depan laptop dengan hamparan referensi skripsi, di saat itulah saya bahkan tidak (punya cukup waktu) memikirkan kuliah saya. dan ini bahkan belum apa-apa. sempat terbayang jangan-jangan saya harus menunda KKN.. lagi?!

jika senang itu diartikan kita tertawa, maka saya sedang tidak senang.
jika bahagia itu diartikan kita begitu lega, maka saya sedang tidak bahagia.
jika muda itu bersenang-senang dengan teman, maka saya bukanlah pemuda.
jika lapang itu tidak ada beban, maka saya sedang tidak lapang.

namun kenyataannya? saya merasa begitu hidup! dan sekali lagi… “jika ada kata lain di atas syukur, maka itu akan saya gunakan untuk mendeskripsi hidup saya saat ini…”

saya menemukan definisi lain dari senang, bahagia, bersenang-senang, menjadi muda, dan tidak ada beban. mereka yang mengajari saya. dan sungguh… hanya iman-lah yang mempertautkan kami semua. merekalah keluarga baru saya. yang ikatannya bahkan melampaui hubungan saudara sedarah. mereka bukan orang-orang langitan yang sempurna. tapi bersama mereka saya belajar, memanifestasi cinta kepada Allah.

hentikan retorikamu! mana amalmu?!
tinggalkan jabatanmu! mana aksimu?!
ingatlah masa mudamu! mana karyamu?!

orang bisa saja mendefinsi sukses itu dengan pergi ke luar negeri, mendapat IP tinggi, lulus cepat, dan sebagainya. namun tak saya temui definisi-definisi itu dalam benak mereka. mereka bukan tidak menyertakan itu dalam definisinya, namun bagi mereka, definisi macam itu hanya derivasi dari sebuah kesuksesan akhirat.

“mbak boleh tidak tahun depan saya jalan-jalan?” seorang adik kelas saya suatu sore meng-sms saya demikian. orang yang punya IP 4 sempurna itu banyak. namun orang ini tidak hanya ber-IP 4 di mata manusia. paling tidak saya tahu bagaimana ia juga berusaha ber-IP 4 di mata Allah. saya yakin akan teramat mudah baginya, biidznillah, jika ingin jalan-jalan (baca: studi ke luar negeri). jaringan dia punya, akademis dia punya, apa lagi? dan saya tahu bagaimana ia ingin semakin berkontribusi lebih dengan memetakan dirinya menjadi dosen(amiin). pernah belajar di luar negeri bisa jadi akan membantunya memuluskan langkah.
dan adik saya ini bahkan merasa harus minta ijin pada saya untuk ke sana. setelah berdiskusi ke sana kemari, dengan mantap ia putuskan, “mbak, saya tidak akan ke luar negeri selama S1…” dalam lebihnya, ia tetap berkarya.
“perjungan ini terlalu indah untuk dilewatkan…”

saya terduduk di rumah seorang ustadzah, menunggunya. sore ini beliau harus mengisi kajian di sebuah masjid. sambil menunggunya, saya mengamati beliau. tampak bahwa beliau baru pulang dari bekerja, sibuk mencari kitab hadits yang akan beliau bawa. bagi sebagian yang lain, saat pulang kerja dan santai di rumah mungkin akan dinanti untuk segera beristirahat. namun tampaknya ini tidak berlaku bagi bunda ini. apakah bunda ini tidak lelah? saya hampir tidak bisa membayangkan diri saya beberapa tahun lagi, saat saya dalam usia beliau.. demi Allah, apakah saya sanggup tetap beristiqomah? Dalam lelahnya, ia tetap bergerak.
“perjuangan ini terlalu mahal untuk dilewatkan…”

saya mengamatinya dan sering mendapatinya hanya terdiam lemas. energinya tidak banyak keluar. ia tertawa saat yang lain tertawa. namun pandangan pucatnya tidak bisa membohongi saya. dia sedang sakit. dia baru saja dioperasi, dan saya hampir yakin bahwa ada yang tidak beres dengan operasinya. saat saya meng-smsnya meminta bantuan, ia kerap hanya menjawab, “afwan ukh, sedang di kos, tidak bisa kemana-mana…” namun jika saya ditanya siapa sahabat perjuangan saya saat ini, maka namanya akan saya sebut. prestasi amanahnya luar biasa, mungkin sedikit berbanding terbalik dengan akademisnya, tapi siapa peduli kata manusia? apa yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak? Dan dalam sakitnya, ia tetap tangguh.
“perjuangan ini terlalu berharga untuk dilewatkan…”

bahasa-bahasa kami hanya dimengerti oleh sesama kami. definisi-definisi kami mungkin terasa tidak masuk akal bagi kebanyakan manusia. idealis, utopis, bias-optmistik mungkin. tapi kami bahkan tidak peduli kata orang. karena kami punya definisi tersendiri. :)

walau tertatih kaki ini berjalan, jiwa merindu syahid tak akan tergoyahkan…

Mendefinisi Sukses

Posted: May 18, 2011 in Shout of Soul

Matanya berbinar saat bercerita kisahnya. Dan saya–seperti biasa–terpukau padanya. Lama tidak berjumpa dan saat bertemu dia menceritakan suksesnya pada saya. Alhamdulillah, saya tidak pernah tidak bangga menjadi temannya. Umii, bagiku kau hebat!

Setelah lulus dengan waktu yang ekspress, dengan usia belum genap 21 tahun, belum juga diwisuda, dia sudah dapat kerja di perusahaan nasional ternama, dengan berbagai fasilitas dari layanan antar-jemput, salary yang cukup tinggi, kesempatan muter-muter Indonesia, dan pastinya pengalaman yang sayayakin akan luar biasa, hampir-hampir tak ada keresahan lagi mungkin dalam hatinya. Itupun dia masih punya satu panggilan wawancara di perusahaan nasional yang amat prestise. Begitulah kisah suksesnya.

Saya tertegun. Teringat perbincangan dengan beberapa kawan selepas makan siang di kantin. Dia yang sedang menempuh S2 menceritakan kisahnya melamar kerja, lika-liku menjual diri (in a positive way), dan bagaimana kuliah S2nya. Dia mengingatkan, “Segera tentukan langkah, dan kejarlah!”

Lalu apa yang sebenarnya saya inginkan?

Saya bukan tidak tahu apa yang saya inginkan. Namun saat mendengar cerita sukses teman saya, saya berpikir betapa sederhananya mimpi saya.

Menjadi istri yang menentramkan. Menjadi rahmat bagi tetangga. Menjadi teladan bagi sekitar. Menjadi guru Al Quran. Menjadi murabbi. Menjadi ibu yang membanggakan.

Menjadi yang kreatif, yang pandai memasak, yang berakhlaq, yang berilmu dan yang membagi ilmu, yang dapat diandalkan, yang dimintai bantuan, yang dimintai nasihat, yang ringan berbagi, yang… Sederhana bukan? Hal-hal kecil mungkin. Namun sungguh, itu sangat luar biasa bagi saya. Investasi sukses, tidak hanya di sini. Namun juga di sana nanti.

Bukan saya tidak mau bekerja. Saya pernah bermimpi ingin bekerja di pemerintahan, di kementrian, menjadi dosen, konsultan pendidikan, trainer bahkan. Namun jika kemudian terbayang waktu yang harus saya habiskan di luar rumah dengan tuntutan profesionalitas dengan akder toleransi yang sedikit, lalu ditambah bahwa saya akan kehilangan banyak momen penting dalam hidup saya, ah… rasa-rasanya saya tidak siap untuk itu. Apalagi jika harus sampai terjebak pada rutinitas sampai hilang nafas. Mengejar yang pasti, melalaikan yang belum terdefinisi. Mengejar dunia, melalaikan akhirat. Ah, ini lebih mengerikan lagi.

Kini, yang menarik di mata saya hanya satu: MENGAJAR! Menjadi guru! Pekerjaan apa yang lebih mulia dari itu? Aliran amal jariyah tanpa putus, menanamkan hal-hal fundamental yang pokok, ah itu luar biasa! Kesempatan singkat mengajar kelas Al Quran di SD Islam beberapa saat lalu mengingatkan masa-masa indah SMA saya saat mengajar anak-anak SD dulu. Dari mereka yang mampu dan berprestasi, hingga mereka yang amat kekurangan sumber daya. Kisah-kisah akar rumput yang tak pernah bisa membuat saya berpaling dari kata mengabdi dan melayani; mendidik dan membina.

Anak-anak adalah keajaiban.Yang tatapan matanya kuat, yang berenergi, yang memanggil saya ustadzah, yang penuh semangat tinggi, dan mereka pulalah yang akan melanjutkan generasi ini. Membayangkan ada nama saya di daftar atas idola mereka adalah prestasi yang membanggakan.

Lalu tatapan-tapan mereka yang haus ilmu Allah, duduk melingkar mendengarkan, bertanya dan mengangguk, bersama mengingatiNya, bersama membincang umat.

Atau saat saya yang menjadi bagian dari tatapan-tatapan itu. Mendengarkan sang ‘mbak’. Membetulkan hafalan, belajar dari kisah mereka, dan hampir tiga tahun bersama beliau, saya hanya bisa bersyukur dan berterimakasih.

Atau saat membetulkan makhorijul huruf mereka. Termotivasi kisah mereka-mereka yang menjadi pejuang Qur’an, manisnya menjemput khusnul khotimah dengan memeluk mushaf di dada setelah mengkhatamkan pada bulan Ramadhan. Merinding!

Hal-hal kecil yang penuh makna itulah yang tidak bisa saya tinggalkan.

Jadi kawan, ayo berjuang untuk masa depan kita di sini. Kita akan bertemu kembali, kelak di surgaNya sana… ^^

A. URGENSI
1. Alasan pertama=

Tathwir (perluasan) dalam dakwah dalam hal sarana, metode, dll meniscayakan adanya tsawabit dan mutaghayyirat. Misalnya di masa makkiyah berbeda dengan di masa madaniyah. Di masa kulafaur rasyidin juga berbeda. Perbedaan obyek, waktu, budaya, kemudian menjadikan adanya tathwir dalam sarana dan metodologi. Hal ini juga membuat kita harus mempelejari ushul fiqh yang ada kaitannya dengan dakwah. Perbedaan harakah adalah  mutaghayyirat. Tsawabitnya=selama masih dalam prinsip ahlussunnah untuk memperjuangkan tegaknya kalimatullah. Pendekatan dakwah di Indonesia beerbeda dengan yang di eropa atau mideast. Kultur beda.

2.      Alasan kedua=

Manhaj adalah panduan kita dalam beramal. Realisasinya membutuhkan daya dukung dalam hal SDM. SDM ini memiliki cara pandang dan mempersepsi yang berbeda-beda. Cara pandang beda, cara berpikir beda, daya dukung juga berbeda. Di masa rasul, tidak butuh adanya ushul fiqh, di masa shahabat dan thabi’in juga belum membutuhkan. Quran sudah berbahasa Arab dan mereka sudah memahaminya. Perbedaan yang muncul lalu memulai lahirnya ilmu-ilmu baru, yaitu ushul fiqh, fiqh da’wah dll. Fiqh da’wah tidak belajar teori dakwah tapi bagaimana mengaplikasikannya dalam menghadapi obyek dakwah. Masyaikh dari eropa saat menilik kasus Merapi tidak bisa memahami logika kristenisasi,  isu kemanusiaan (al-mu’annasah) akan lebih mudah diterima mereka.

Tsawabit dan mutaghayyirat harus dibersamai semangat menghargai pendapat. Ke-sakklek-kan cara dakwah akan menyulitkaan sedikit atau banyak orang sehingga yang terjadi adalah saling menyalahkan. Misalnya: metode rasmul bayan dalam halaqah hanya dipakai di indonesia.

3.      Alasan ketiga=

adalah ujian ketsiqohan pada jamaah, qiyadah, dan manhaj. Banyak sahabat senior yang usianya melampaui 3 zaman; makkiyah, madaniyah, khulafaur rasyidin. Shahabat yang memahami prinsip dalam dakwah, maka tidak masalah menyikapi perubahan cara. Namun yang tidak memahami, akan menjadi ujian bagi mereka. Contoh: kebijakan perpindahan kiblat. Awalnya menghadap masjidil Aqsha. Di tengah sholat, turun ayat untuk menghadap masjidil Haram. Maka ada masjid bergelar Qiblatain. Tsawabitnya: sholat menghadap Allah. Bahkan di Quran disebutkan bahwa ini adalah ujian apakah mereak masih percaya pada Quran, Rasul, dan Allah? Mereka yang hatinya kotor akan bingung dan berpikir, “kok mencla-mencle ki piyee?” Namun yang sudah paham, maka menjadi tidak masalah.

Tsawaabit, dari kata tsabata: manhaj pokok yang bersifat tetap yang tidak akan mengalami perubahan mesi zaman berubah. Contoh: materi dakwah (semuanya menuju ketaauhidan), cara sholat. Dalil2 bersifat qoth’i (mutlak). Mutaghayyiraat, berasal dari kata ghayyara (berubah): dinamis, berubah, sesuai zaman waktu linkungan dan situasi. Hal ini akan menyangkut dalam masalah metodologi, pendekatan, sarana. Dalil2 bersifat dhanni (asumsi). Di masa rasul belum ada ilmu semacam Ini.

B. BAGIAN-BAGIANNYA

1. Dalam aspek syariah:

    • Masing2 nabi dan rasul punya manhaj dan syariah yang berbeda. Tapi tsawabitnya yaitu mentauhidkan Allah.
    • Mabit di Mina adalah tsawabit. Perluasan Mina adalah mutaghayyirat. Perluasan Mina hukumnya sama dengan perluasan masjidil haram, karena banyaknya jumlah jamaah.
    • Sholat di masjidil Haraam sama dengan sholat seribu kali. Perluasan masjidil haram hukumnya sama saja dengan masjidilhram itu sendiri. Begitu juga dengan tempat sa’i yang sekarang juga diperluas.
    • Wanita tidak boleh pergi sendiri tanpa mahram lebih dari tiga hari. Maka dikembalikan pada ‘illat nya (sebab). Dulu haditsnya dialasankan agar tidak ada fithnah. Aisyah dulu ingin pergi diizinkan Umar karena di perjalanan ada teman yang bisa dipercaya menjaga. Di pesawat ada pramugari, orang2 yang punya otoritas menjaga. Poinnya adalah jika memang tidak terjadi fithnah, boleh.

2. Dalam aspek mahdzab fiqh

Kita bisa membedakan berbagai mahdzab adalah dilihat dari metodenya. Jadi emang dalam mahdzab pun ada tsawabit dan mutaghayyirat. Ada fiqh perbandingan. Ikhwan tidak menetapkan mahdzab pasti, tidak pernah membicarakan itu karena masing2 mahdzab punya prinsi-prinsip dasar. Salafi, hidayatullah: ahmad. Muhammadiyah: maliki

3.   Dalam setiap gerakan dakwah

ASPEK MATERI
Menyangkut tentang materi fiqh keislaman. HTI mengembangkan materi fokus pada penegakan khilafah. Tabligh menuju pada back to masjid. Salafy menuju pada purifikasi aqidah, manhaj salaf.

ASPEK METODOLOGI

Selama merujuk pada ahlussunnah, maka apapun kelompok-kelompok tersebut, itu tidak mengapa. Maka yang dibicarakan adalah bukan pada organisasinya namun apa yang diperjungkan. Untuk menentukan lurus tidaknya, maka lihat manhajnya.maka yang kita lihat adalah kontennya, bukan namanya.

*) ditulis dengan penuh keterbatasan ilmu

Nyata sudah janjiNya…

Posted: February 21, 2011 in Shout of Soul

menuju akhirnya…
dan semakin mendekati.
namun tak jua aku merasa resah. aku sudah tahu, kawan.
kau bingung, mereka bingung, banyak yang bingung.. Ah, mari belajar!

kulit menjadi begitu eksotis hingga daging tak tersentuh.
dan aktivitas memakna tak sampai ke akarnya.
ah, sayang!
sadarlah, wahai kawanku yang cerdas.
ini permainan.
maka nikmatilah.

“saat paradigma dunia tak mampu lagi memakna,
sadarku akan hadirMu… memberi jawab atas semua tanya”

kita teralihkan.
terpedaya.
hingga lupa pada yang sebenarnya.

mata terbutakan
dan telinga terpekakkan.
tertutup.

Nyata sudah janjiNya…

Posted: February 21, 2011 in Shout of Soul

menuju akhirnya…
dan semakin mendekati.
namun tak jua aku merasa resah. aku sudah tahu, kawan.
kau bingung, mereka bingung, banyak yang bingung.. Ah, mari belajar!

kulit menjadi begitu eksotis hingga daging tak tersentuh.
dan aktivitas memakna tak sampai ke akarnya.
ah, sayang!
sadarlah, wahai kawanku yang cerdas.
ini permainan.
maka nikmatilah.

“saat paradigma dunia tak mampu lagi memakna,
sadarku akan hadirMu… memberi jawab atas semua tanya”

kita teralihkan.
terpedaya.
hingga lupa pada yang sebenarnya.

mata terbutakan
dan telinga terpekakkan.
tertutup.

Uban

Posted: October 8, 2010 in Shout of Soul

Rasululkah beruban saat mendapatkan ayat tentang istiqomah. Bahkan untuk ukuran manusia mulia itu… Allahuakbar!!
Dua tahun lalu, saat pertama saya menikmati gelar mahasiswa, berbangga berusaha memasukkan diri dalam himpunan aktivis, berkobar semangat menimba ilmu dan pengalaman… ada satu sosok yang saya kagumi.
Qowwiy dan Kontributif!

saya mengaguminya. sampai tidak sadar bahwa dimana ada dia, di situ saya akan mengikuti. dan, beliau bukan orang yang tidak dipandang diantara kawan2nya yang lain. Ah, siapa tak kenal beliau?!

dan kini.
dia sungguh telah berbeda.
dan itu pilihan dia.
dimanakah kenikmatan-kenikmatan iman, ukhuwah, dan manisnya berjuang dalam barisan?
Hilangkah begitu saja dari ingatannya?

Sungguh, perlahan memudar kekagumanku padanya. bukan mengapa. dia hanya makhluk. tak banyak beda dengan saya. tak apa.
dia yang akan ditanya tentang imannya.
dia pula yang akan menjawabnya.

Istiqomah di jalan ini.
Demi Allah. Sulit. Bersabar atas mereka yang menentang. Juga bersabar atas mereka yang berada di barisan yang sama ini.

untuk siapa kita disini?
jangan biarkan diri kita terkecewakan oleh prajurit yang tak banyak beda dengan kita… Allah…
Hati ini untukMu.
Selamanya.

*blm selesai ditulis

…and now you belong to another…

Posted: September 29, 2010 in Shout of Soul

Sungguh tidak menyangka…
Hari itu aku menangis tiga kali… bukan sekedar menangis sebentar lalu berhenti…

Tiba-tiba saja detik-detik itu berjalan lagi
Reminiscing, kata Eminem, seperti di video klipnya “Mockingbird”
Laksana ada layar besar dengan sebuah proyektor di sebuah ruangan gelap
Detik dari TK hingga saat-saat terakhir…

Masih lekat di ingatanku,
Saat kau menangis saat diejek teman2 SD kita
Atau saat kita saling menginjak kaki dalam sholat
Atau saat kita belompat tali bersama di rumah Rika
Atau saat kita berbagi baju dan tempat tidur serta selimut

Atau saat kita nyemplung di bak mandi Embah
Atau saat berhujan ria bersama Fatin dan Rima
Dan melewatkan ramadhan bersama mbak Luthfia dan Afifah
Lalu berburu baju lebaran di Amigo

Dan di tiap pagi
Lagu-lagu Blue, Eminem, Westlife dkk
Keras terdengar dari rumah kita
Hahaha…

Masih lekat!

Masih ingat saat kau merengek memohon minta di-les-kan di sana-sini
Pak Kamto lah, ibuknya mbak dewi lah, pak Dar, Gama, Neutron, CEC, BPEC…
… dan aku selalu malas mengikuti jejakmu

Sore hari saat PMR di SMP
Aku mengagumimu
Dengan baju birumu
Mempraktekkan di depan ibu bagaimana membalut luka dengan kain segitiga
Apaa? Mitella?? Haha…
Dan aku mengikuti jejakmu

Masih juga kukenang
Masa2 SMPmu… hahaha…
Aku mengagumi seseorang bernama Tjues

Dan kau mulai berpakaian putih abu-abu
Di sanalah mulai kau tutupi kepalamu
Dan aku berpikir..
Kerudung membatasi gerak!
Tapi entah kenapa aku juga mengikuti jejakmu
Dan di sanalah kau membawaku
Dalam sebuah pelatihan kecil di sebuah musholla
Yang benar-benar bermakna!
Besar dan dalam untuk hidupku…

Menapaki aktivitas kita di sana
Berbicara, bersosial, belajar,
Dan mengenal Islam
Di sanalah mulai kusadari
Allah mengatur segalanya
cintaNya membuat kita sampai di sini

bahkan orang tua kita yang sangat bebass
ternyata doa mereka justru mengantarkan kita ke titik ini

maka kau pergi,
ke sebuah tempat bernama UGM
dan kamar kita, yang dulu ramai penuh poster pemain bola
atau aktor2 favoritmu,
mulai sepi
seiring pretelnya gambar2 itu…
setaun kuhabiskan sendiri menempati lantai Harry Potter itu

dan di sanalah kau makin jauh
sibuk dengan dunia barumu
tak ada lagi banyak waktu untukku
dan di sanalah diskusi2 gerakan mulai kita gelar

dan saat kususul engkau
Fiuhh… dunia baru ini benar2 menyita segalanya
Dunia dakwah
Dimana cinta kita, tersumbang tulus di jalanNya
Menyita waktu
Menyita tenaga
Menyita pikiran
Dan persaudaraan

Kau tak lagi tahu duniaku
Dan aku tak lagi tahu duniamu
Selamanya aku hampir yakin,
Apa yang kau suka, aku pasti suka
Apa yang kau benci, aku pasti benci
Apa yang kau tahu, aku pasti tahu

Dan kondisi itu semakin lama berlangsung
Aku ingin menuntutmu
Tapi, sungguh, kau bukan untukku
Aku merindukan satu sosok bertitel “kakak”
Yang bisa mentraktirku es krim
Atau mendengar ceritaku
Atau sekedar bisa makan siang bersamaku
Dan kutekan semua itu…
“aku tidak boleh manja!”

Semua itu mengkolektif
Membuatmu berpikir bahwa aku adik yang manja
Tak lebih dari seorang penuntut semata
Dan aku makin kesal padamu
Sempat kuberpikir..
“adakah cintamu untukku? Ah, tak perlu sebesar cintamu pada mad’u mu… tapi adakah?”

Mudah kau batalkan janji makan malammu denganku
Padahal atasnya, kubatalkan semua acaraku malam itu
Dan kuhabiskan separuh malam itu dengan diam dan menangis di kamar mbak Qiqi

Namun, kusadar juga
Ada saat dimana ku menyakitimu
Sering bahkan.
Bukan ku tak sadar
Ketahuilah bahwa aku menyesal
Sangat.
Namun entahlah.
Aku tak tahu

Menutup flash back ini, aku bertanya pada kita
Berapa kali kita saling memeluk
Atau mencium pipi
Atau sekedar berkata, “aku menyayangimu..”

Orang tua kita adalah sosok hebat dahsyat dalam hidup kita
Namun, mereka sungguh lupa mengajarkan
Bagaimana mengekspresikan cinta
Maka gengsi, malu, enggan, dan segan
Menutup ungkapan, dekapan, dan keinginan
Untuk menguatkan hubungan persaudaraan

Biasakanlah…
Katakan cintamu…
Dengan lisan, atau gerakan
Sekedar tatapan, senyuman,
Atau pelukan dan ciuman
Demi Allah, ekspresikanlah!!

Umat ini menunggumu,
bukti keyakinan dan komitmenmu…
jadilah pondasi peradaban…
terdepan memperjuangkan tegaknya kalimatullah…

Berpikir.

Posted: July 28, 2010 in Shout of Soul

sebuah untaian indah dari seorang kawan …

jangan sampai kesibukanmu dalam bergerak dan kebencianmu atas sesuatu menghalangimu akan kebenaran

Merasa benci, siapa tak pernah?
Merasa kecewa, ah… kita manusia!
Merasa kesal, itu juga emosi kita…

Dalam masa saya membenci sesuatu atau seseorang, saya kadang kesulitan membedakan… mana emosi saya dan mana realitas. Selalu saya ucapkan pada diri saya. Saat saya membenci seseorang, saya katakan… dia pernah berbuat baik padamu. Sungguh suatu celaka, ketika kebencian saya padanya lalu menghalangi saya dari mendengar atau menerima kebaikan apapun yang bisa saya dapat darinya.

Dan telinga pun tertutup
Mata terbutakan
Hati enggan merasa

Saat manusia dipermainkan gelombang emosi
yang berbuncah-buncah
Terasalah seolah tak ada masa lalu
atau masa depan…
Yang ada …
Masa Kini… Aku membencinya!

Maka tertiuplah segala kebaikan
Tertutuplah indra dalam mengindra kebenaran
dan di sanalah, untukku…
kecelakaan!

Ya Allah, aku berlindung padaMu, dari hal-hal yang aku tidak ketahui…
Aku berlindung padaMu dari ombang-ambing emosi dan imanku…
Dan aku mohon… Dekatkanlah aku pada kebenaran…
dan berkahilah usiaku…