Menyentuh Hati Mereka…

sungguh itu bukan pertama kalinya saya melihatnya berlaku begitu mempesona… Padahalsaya tidak tahu, apakah dia pernah mengenal Rasulullah…

Mungkin jika masing-masing kita ditanya, siapakah figur teladanmu? kita, apalagi engkau dan engkau serta seiapapun yang mengaku kader da’wah, akan serta-merta menjawab RASULULLAH! Tegas dan mantap… Nyatanya… Apa yang sudah kita teladani dari beliau yang agung itu?
silakan jawab ibadah,
silakan jawab cara hidup,
silakan jawab apapun…
tapi sadarkah kita… bahwa hal paling utama yang membuat beliau bisa menyentuh hati banyak orang, tidak lain tidak bukan adalah akhlaq beliau! Akhlaq, saudaraku… AKHLAQ!

akhlaq lah yang dilihat orang pertama saat melihat kita. apalagi bagi engkau yang berkerudung besar, berjenggot, bercelana congklang, bergamis, berbaju koko kemanapun… Bagaimanakah akhlaqmu wahai saudaraku?

jika kita pergi ke suatu tempat, lalu bertemu orang, dilihat orang,sadarkah kita bahwa manusia cenderung selalu membuat penilaian,membuat persepsi, mengaitkan dengan stereotype… Bayangkan apa yang dipikirkan orang
saat melihat seorang akhwat membuang sampah sembarangan,
atau melihat ikhwan melanggar lalu lintas,
atau melihat akhwat tertawa terbahak,
atau ikhwan yang berbicara kasar pada akhwat,
atau bahkan… telat datang kuliah…tidur saat kuliah… (waduh, mak jleb-jleb banget saya!!)

saudaraku, itu bahkan hanya secuil sejumput kecil dari apa yang disebut akhlaq. Pemandu saya di Asma mengatakan, “jika guru terlambat datang untuk memberikan ilmu, maka bagaimana adab kita?”Adab kita adalahtetap berbaik sangka. Subhanallah, begitulah saudaraku, Islam tidak hanya mengatur bagaimana kita bercakap atau berlaku… namun Islam mengaturnya sampai tataran perasaan, pikiran, atau prasangka yang bahkan tidak bisa dilihat orang lain…

Masing-masing kita tersibukkan dengan apa yang orang-orang sebut dengan “da’wah”, yang katanya itu berarti menyeru manusia pada kebaikan. dan kerja-kerja kita rapi tersusun sampai kita selalu tersibukkan dengan urusan-urusan organisasi, bagaimana proker, bagaimana ini bagaimana itu… bekerja dalam satu lingkup zona aman karena kite berinteraksi dengan sesama ikhwah…

Jauh meninggalkan lingkaran organisasi kita, ada banyak orang yang sedang menghadap dukun minta jimat, atau remaja yang sedang pacaran dengan mesra, atau mereka yang sedang duduk-duduk santai di pos gardu sambil gitaran dan merokok main kartu…
Jauh meninggalkan lingkaran da’wah kita, ada pejabat yang sedang menerima uang suap… sementara di kolong jembatan ada anak-anak kelaparan minta makan, ada ibu-ibu tua kepanasan di pinggir jalan meminta-minta…

Demi Allah, kita tahu masalah umat itu banyak! dan karenanya kita tersibukkan dengan apa yang kita sebut kerja-kerja da’wah… Tapi saudaraku, pernahkah kita bertanya… saat kita mellihat orang-orang di luar lingkaran organisasi kita… kira-kira apa yang ia pikirkan tentangku? Ia menilai kita dari keseharian kita, tutur kita, perilaku kita, bercanda-an kita, yang parahnya, akan disangkutkan dengan cara berpakaian kita yang seolah menjadi representasi dari ikhwan-akhwat keseluruhan… Itu keseharian kita…!

Sungguh, tidak mudah menjadi seorang muslim.
Perilaku kita diawasi, bukan (saja) oleh intel (hehehe)… tapi orang-orang di sekitar kita… yang menatap kita, menilai kita, berprasangka pada kita. Mereka adalah teman kuliah kita, tetangga kita, adik kita, kakak kita, keluarga kita, dan bahkan… orang asing yang kita temui di jalan…

Akhlaq saudaraku… Akhlaq…!

No… not that easy…

Bukan da’wah namanya jika tidak berat…
Bukan da’wah namanya jika kau merasa baik-baik saja dengan keadaan sekitarmu…
Bukan da’wah namanya jika yang kau inginkan sudah menjadi kenyataan…

Ini harus disyukuri, kata seorang rekan…
Karena dari sinilah kita akan mendapat banyak pelajaran…
Jika semua sudah sama dengan yang kita inginkan, untuk apa susah-susah berkarya?

Ia disebut pengorbanan…
Ketika kau ingin pergi tapi keadaan mengharuskanmu tinggal…
Ketika kau ingin berhenti tapi iman mengharuskanmu terus berjalan…
Dengan segala resiko…
Serta ketidaknyamanan yang harus kau nikmati…

Ia disebut keyakinan
Ketika yang kau khawatirkan tidak ia khawatirkan
Ketika yang kau anggap baik belum tentu ia anggap baik
Ketika yang kau tahu hanyalah ini bagian dari da’wah…

Ia disebut melayani…
Ketika kau ingin mereka tahu bahwa tak ada hal lain yang ingin kau berikan selain kebaikan…
Karena bagimu, ummat adalah amanah…
Dan asy Syahid berkata, “Jika saja mereka tahu…
Mereka (ummat ini) jauh lebih kami cintai daripada diri kami sendiri…”

Ia disebut zona berani…
Ketika kau berada dalam tempat dan kondisi tak nyaman…
Tapi kau yakinkan dirimu bahwa kau harus di sana… Harus… dan Harus…
Bukan tentang apa yang harus kaudapat dari sana…
Tapi tentang apa yang bisa kauberikan di sana dan dari sana…

Ia disebut taat…
Ketika sesungguhnya kau tak ingin melakukannya…
Tapi, karena iman, kau harus melakukannya…

Ia disebut sabar…
Ketika kau ingin mereka paham tujuanmu…
Namun ternyata, standar kebaikan tiap-tiap jiwa berbeda
Saat kelelahan dan kesendirian, tak akan lagi diperhitungkan…

Rabbi, ummat ini…
Memikirkan mereka membuat tidur kami tak nyenyak
Illahi, jama’ah ini…
Berikan kekuatan di pundak-pundaknya
Hati, bersihlah engkau…
Niat, luruslah engkau…
Senyum, tetaplah ada…

Demi Rabbul Izzati,
jangan sampai ummat ini menjadi korban…
Atas kerja-kerja dakwah kami yang kurang professional

Rabbi, kami tak peduli…
Harus berapa besar pengorbanan kami berikan…
Harus sejauh mana kaki kami dilangkahkan…
Harus sampai kapan lelah dan kesah kami tahan…
Untuk membangun peradaban
sebuah negeri yang telah Kau titipkan…

Pun Demi Rabbul Izzati,
Jangan biarkan perilaku kami
Justru menjadi penghalang atau penghambat dakwah
Secara sadar… ataupun tak sadar…
Na’udzubillah min dzalik…

iGn0R3

Memang sudah saatnya
kutulikan telinga
kubutakan mata
kupalingkan wajah
tentang apa-apa yang terjadi di sana
pun juga tentangnya…
sepertinya ini juga yang ia inginkan aku lakukan…
sejak dulu barangkali…

Menghapus namanya dari prioritas
Menghapus sosoknya dari batas atas
dan sudah saatnya berfokus
memangnya kemana saja aku selama ini?

Sungguh, zona nyaman itu mematikan!

Rahim Peradaban

saya curiga jangan2 saya termasuk penganut mahdzhab behavioristik. lingkungan benar2 telah memberi pengaruh amat besar pada diri saya. beberapa malam sebelum ini, di jam segini, mungkin saya sudah berkelana di alam mimpi.

Jika Allah menghendaki kebaikan pada hambaNya, maka ia akan dipahamkan atas ilmu agamaNya…

Secuplik hadits yang ustadz Deden paparkan membuat saya melek lagi di malam itu. Wah,.. saya ke-ge-er-an… berarti itu artinya Allah amat menyayangi saya.. Asiiikk! saya diterima masuk asma amanina, pastilah dengan izin Allah, dengan misi Allah mendidik saya….
“Tidak terbayang apa jadinya jika Rasul menolak ‘terpaksa’ menyampaikan risalah…”
Teringatlah saya pada hari-hari terakhir saya sebelum hijrah ke Asma. Biasanya saat maghrib saya masih bersama kawan-kawan saya. Sholat maghrib di kos itu sangatlah jarang. Pasti di suatu tempat di luar kos (baca: belum pulang). Sore terakhir sebelum ke asma, saya amatlah bersedih. Saat itu seolah terasa bahwa hari itu adalah hari kebebasan saya yang terakhir. Detik-detik sebelumnya, saya habiskan dengan PK (Peninjauan Kembali) keinginan saya pindah ke Asma. Ingin membatalkan, ingin di kontrakan saja seperti sebelumnya… Padahal saat itu saya sudah terdaftar dan diterima di sana. Masya Allah, setan tu ya…
Hari-hari awal di sini membuat saya cukup jet lag. Bagaimana tidak?! Jatah tidur saya terpotong drastiss… pembinaan ukhrawi meningkat cepat… dan wah… ritme sirkadian saya benar-benar harus di-reset. Bangun jam setengah empat dan tidur jam setengah dua belas. Khusus untuk saya, ini sulit. Sehari hanya tidur empat jam??
Habis shubuh, ada halaqoh qur’an atau kuliah pagi jam 5 hingga jam 6 biasanya lebih. Setelah itu kuliah dll, silakan. Pulang asma maksimal maghrib, diutamakan bisa sholat maghrib di asma. Tidak ada sholat wajib yang dilakukan bukan berjamaah. Setelah sholat, biasanya ada yang memimpin muraja’ah. Usai maghrib ada halaqoh qur’an; tahsin, tahfidz, dll. Isya’ sholat bersama. Usai isya’ waktu bebas, bisa untuk makan, bersih diri, dll. Jam 8 harus sudah ada di kelas lagi untuk kuliah; fiqh, talaqqi, tafsir, dan ilmu2 lain yang sebelumnya amat malas saya pelajari.

jika dikata sangat berat, ya memang berat! biasanya hidup saya tidak sepadat ini. Misi besar islahunnafs menjadi tanda tanya besar? sudah sampai mana? capaiannya apa? dengan bantuan siapa? sekonsisten apa? hadoh!

ini adalah saat kau merasa begitu menghargai waktu,
menghargai tiap antrian ilmu Allah yang berjejalan ingin memasuki otakmu,
menatap dan terpesona pada sosok-sosok itu… “ah, adakah aku akan bisa seperti dirinya?”
di sini adalah tempat di mana kau akan merasa begiiituuu miskkiiin ilmu…
hingga tak sempat lagi untukku memikirkan hal-hal yang lain… selain memperbaiki diri…
bahkan sosok-sosok itu terus saja mengupgrade diri dan terus mengupgrade…

miskiinn… kasian sekali diri-diri ini… yang terkadang tersibukkan dirinya atas sesuatu yang melenakan…
tersibukkan fikirnya atas sesuatu yang membayang. Sungguh, sejatinya hidup ini memang terus melaju…
“dan atas apakah, nikmat waktu telah kita habiskan?”

Di sini, adalah madrasah nya madrasah…
Di sini, adalah rahim peradaban…
Di sini, adalah tempaan…
Dari sini… dua tahun dari sini…
dan tahun tahun setelah itu…
akan lahir titik titik awal peradaban…
Inginnya aku menjadi bagian itu

Yang nampak telah nampak
Yang tertutup telah tersingkap
Yang bengkok terlihat bengkok
Ternyata dulu kacamata ini kurang tepat letaknya
kurang bersih kacanya
kurang pas minus-nya
kini perlahan netra ini mulai bersih
kembali ke sediakala

Amin…

Bismillah ya… ^^

Saudara Baru… Semangat Baru

sunyi itu indah…
Saat masing-masing kami membuka sisi-sisi terdalam…
dan air mata itu mulai engalir…
dari tiap-tiap netra kami…
kudapati diriku masih tegar…
pipiku belum basah… Tak Mau!

Namun di sisi lain …
ku bertanya… “keraskah hati ini?
Sehingga sulit sekali merasakan dalamnya kisah mereka?!”
Istighfar…

dari lingkaran itu,
kurasakan betul…
ikatan kami menguat…

Yang tersimpul makin menguat…
Yang terdekat makin terjalin…
Dan kusadari…
Masing-masing kita istimewa…
dengan kisahnya tersendiri..

I feel like I’ve been slapped…!
and inspired at once…
Terima Kasiii ya Allah.. Sudah Kau ijinkan aku bertemu orang-orang hebat itu…
Terima Kasii saudara-saudara baruku… I do enjoy every second of time spent with you all..!

be different…

Apakah memang iman-iman ini sedang rombeng?
Mengapa terasa begitu rapuh ikatan ini…
Terlalu rapuh untuk dikatakan ukhuwah…
Sangat rapuh…

Sedetik membaik…
Seolah dunia indah…
Cerah… Optimis…
Namun detik berikutnya…
adalah ulangan detik-detik sebelum-sebelumnya…
Miris!
Bagaimana bisa?!

Hati pun seolah tak ingin lagi membahas…
“Aku lelah,..Terserahlah!” katanya berbisik pada pikiran…
Pikiran kusut… dan ia pun cemberut…
“Ah, aku masih punya banyak hal tuk dilakukan…”

Saat hati dan rasa seolah membeku…
Lelahkah diri ini?
Sudah pantaskah aku berkata, “Lelah…!”

Aku ingin diam…
Dan disanalah kutemui untaian pelajaran baru…

Terlalu mencintai membuat toleransi terlalu tinggi…
“Terlalu membenci membuat prasangka seolah nyata…

Masya Allah… mereka benar!
Berlebihan itu tak baik…
Membuatku tak bisa berlaku adil…

Jika bersama… pasti bisa…
Jika bersama… pasti akan lebih menakjubkan…
Jika bersama… pasti akan lebih bermanfaat…

It is just a question of when…
Banyak agenda harus di-eksekusi…!

SEMANGAATTzzz….!!!

Time to get back…

on the right track…

Afatul Lisan

Mungkin mungkil,
Mungkin kecil,
namun sering saja membuat kita tergelincir…

Ah, dia yang hanya satu…
Namun kerapkali mendatangkan masalah…
Saudaraku, mari kita jaga lisan kita…

Canda,
Kata,
Nada,
Tawa,
..Saudaraku… Mari berhati-hati…
*utk edisi ini… tak mau banyak ucap… Kan afatul lisan… :p

My New Post

Soto dan Penjual Roti

Sungguh tak menyangka jam di HP saya sudah menunjukkan pukul 7.50. Seingat saya terakhir saya meliriknya setelah wudhu masih 7.03. Saya pikir saya masih punya banyak waktu untuk dhuha… Rapat besar Ospek dimulai jam 8. dan sebuah larangan besar untuk datang telat! Selesai dhuha, saya tengok jam ternyata … haha… berhasil membuat saya panik. Pukul 7.50 dan suatu keniscayaan bahwa jam itu telat 7 menit!

Tak sempat sarapan, dan langsung menuju g-100. Sempurna sudah… semua panitia sudah berkumpul. jam menunjukkan pukul 8.07. Uang 2 rb –terpaksa, dlm arti sebenarnya–saya keluarkan sebagai iqab. Plus… diketawain teman2… “Wa.. nadia telat gimana siii??”

Rapat berlangsung lancar meski sedikit menanjak dan bergelombang… (haha, opo jaal??) Di akhir rapat, saya dan Tya sudah tak tahan lagi dengan lolongan perut kami. Jadi langsung menuju kantin. Awalnya pingin makan di luar, tapi rupanya titik2 air mengurungkan niat kami…

Sekuat tenaga menahan nafsu ingin beli jajan tambahan. Sekadar pisang goreng atau apalah… Tapi, alhamdulillah, berhasil kuyakinkan… “ketika soto sudah datang dan teh hangat sudah terhidang,yakinlah semua itu belum tentu habis kau lahap…jadi mubazir saja mau beli pisang goreng segala…”

Menunggu soto sambil ngobrol dikit-dikit dengan Tya… Jadi ingat kata teman saya. Seorang perawi hadits menghindari makan di warung. Karena berpotensi menghabiskan waktu untuk ngobrol yang cenderung sia-sia… Hehe… Pastinya saya bukan perawi hadits (plis deh, Nad!)

Tidak yakin sudah berapa lama saya menunggu… yang jelas rasanya lamaa bgt… karena udah dari pagi gak makan. Keselnya ternyata yang dilayani orang lain yang datang lebih akhir… Aaarghhh! Dont u know how hungry I am???!!!

Tya udah dapet gado-gadonya dan saya masih kelamutan nunggu soto. Saat tya nanya, sang penjual bilang, “Wah, nasinya udah habis mbak. Tinggal kupat…” Aneh aja membayangkan soto dikasi kupat,ya udah saya ganti pesen gado2 kaya Tya. Sembari nunggu, Tya udah nawarin gado2nya buwat saya. tapi saya tolak… ah, sudahlah… ntar juga datang…

Sementara Tya sibuk dengan laptopnya.. Saya merenung (kok ya sempat ya?!)… ya Allah, saya tadi udah membayangkan mau nggebrak meja, marah-marah, mutung njuk pergi… Masalah gini aja, saya udah gak sabaran… Astaghfirullah… Tapi pancen rasanya anyel tenan pas itu (in case u dont know anyel… it means sebel)…
Malu terbersit juga… Gitu aja ngeluh nad…

habis makan njuk pulang… Hm… Sampai rumah jam dua siang terasa begitu aneh. Biasanya habis magrib :p
Siap2 santai… Saya siapkan tempat tidur saya… Menata guling buwat sandaran. Ambil buku Etika Jama’ah. dan …hm… nyamannya… bacabuku di udara yang begitu nyaman. (Inget ya… ane gak baca sambil tiduran!)

Baru sebentar terhanyut, telinga saya menangkap bunyi ketukan pintu. Saya mencoba memperjelas suara itu… ternyata memang benar ada orang di luar. Saya jawab dari dalam, “Siapa?” Kalo itu akhwat, saya buka langsung pintunya. “Afwan, mau antar roti…”
“Hah, roti?” bingung saya, “emang siapa yang pesen roti?”
“Afwan, cari siapa ya?” tanya saya dari dalam…
“Mau antar roti…”
dan saat itu saya merasa sangat bodoh. saya ingat ada roti titipan di rumah saya… Roti itu diantar door to door… Ooo, rupanya dari akh ini… “Afwan, kalau gitu bentar ya…”
Saya ambil “pakaian tempur” saya… Dan ingatlah saya bahwa saya masih utang satu roti yang belum dibayar. Sekalian saya bayar dan saya buka kunci pintu depan. Mendengar kunci dibuka, sang akh bergeser amat jauh dari pintu. Sekilas terlihat dan saya menduga ia seorang salafy… Tanpa melihat ke arah saya (malah saya yang liat! Halah!!) dia memberikan sekotak roti baru. dan saya memberikan kotak roti yang sudah dia tinggal beberapa hari lalu.
“Dihitung dulu, siapa tahu kurang…” kata saya (plis deh, akhwat, mentang2 di rumah njuk ngutang seenaknya…)
“Alhamdulillah, sudah pas… Syukron ya” katanya sambil senyum. Dan berlalulah ia…

Subhanallah… Saya agak lama merenungi kejadian itu. Saya perhatikan sang akh … dengan ramahnya ia melayani seorang ibu2 yang mau beli rotinya. Hm..jadi ingat buku SUtera UngU… :)

Entah mengapa saya merasa, dia pasti menjalani ini semua dengan hati lapang. Saya tidak peduli pikiran saya benar atau salah. Tapi saya merasa amat malu… Sangat malu… Kejadian nunggu-soto siang tadi benar-benar memalukan. Sangat memalukan. Mau jadi apa saya ini? Astaghfirullah…

Allah melihatmu, Nadd… :(

oops...

Tragedi Jumat Malam… Ehm… sebagai frame berpikir… saya tegaskan dulu bahwa post kali ini sama sekali tak bernada horor atau setan2an. Tapi meski demikian, rasanya horor beneran… I was extremely trembling!

Hari itu saya mabit di rumah saudari saya tercinta, yang berinisial IP (ilmu pemerintahan)… Rencana nya kami mau ngerjain tugas psikologi perkembangan remaja. Berharap ada laptop atau komputer di rumah IP,..dan ternyata harapan itu tidak ada! maka lepas Isya’ kami pergi cari makan dan ke warnet… Tujuan kami ke warnet adalah untuk: 1. cari film pendukung, 2. ambil email dari zadok (makalah tugas), 3. nah, yang ini adalah tugas dadakan… Saya mendadak ingat bahwa saya harus mengumpulkan konsep konkret untuk penerimaan mahasiswa baru se Univ… Blaar!! Kalang kabut. deadlinenya besok dan saya baru ingat malam itu.

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 9 lebih. tugas belum selesai dan MR siyasi saya (yang kebetulan ym-an dengan saya) sudah memperingatkan untuk segera pulang. Aduuh, padahal tugas2 belum selesai. Tapi jam keluar akhwat sudah selesai. Di saat yang sama, komputer yang kami pakai eror… E-mail saudari saya (IP) belum di sign-out! Cuek dan kami pun pulang…

For your information, rumah IP berada satu kompleks dengan masjid. Jan persis adep-adepan. Maka ketika kami memasuki kompleks masjid, perasaan saya gag enak banget. Ada beberapa motor di depan masjid dan saya–agaknya–cukup mengenal motor siapa sajakah itu. Berita buruknya adalah motor2 itu adalah milik ikhwan. Dan kecemasan saya terbukti. Ada beberapa ikhwan rapat di masjid itu dan jelas sekali mereka melihat kami pulang malam di atas jam sembilan. :( (

I really didnt know what to say! Kalau panik, kedua lulut saya bergetar. And they did! Setelah memarkir motor, kami cari cara gimana biar bisa masuk rumah tanpa harus melewati ikhwan-ikhwan tersebut. Namun kami tak menemukan cara apapun… Hh., bagus! Hancur sudah self-esteemku..

Apapun alasan saya, entah ngerjain tugas…or bla bla bla… saya tetap saja salah!! Sudahlah, tak perlu berkelit…

Lama saya merenungi kejadian itu… Bahkan saya sampai bermimpi disidang oleh teman-teman saya atas kejadian ini… Masya Allah… Dan saya mulai bertanya-tanya, jauh di dalam hati saya…

Saya malu atas apa?

Perbuatan saya kaah? Atau karena dilihat mereka?

Jawaban ini membuat air mata saya makin deras saja. Hh… jangan2 saya malu hanya karena dilihat mereka!! Padahal peduli amat, toh mereka bukan siapa2 saya! saya tidak salah sama mereka!

Lalu kepada siapa saya seharusnya merasa malu??

”Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan,” (QS Al Fushshilat: 40).

Saudaraku…

tiap detik bergulir, ada Allah yang selalu mengawasi…
tiap waktu berlalu, ada Allah yang selalu melihat kita…
namun terkadang pandangan manusia lebih bisa membuat kita malu daripada “pandangan” Allah…

Seolah ketika tatapan manusia lengah dari perbuatan kita, kita merasa bebas–tak malu-malu lagi–melakukan hal-hal yang mungkin di saat manusia2 itu membersamai kita, kita malu melakukannya… Entah itu kata, atau perbuatan…

Sabda Nabi paling pertama yang dikenal atau diketahui manusia adalah, ‘Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah semaumu’,” (HR Bukhari, Abu Dawud, Ahmad).

Allah melihat Kita…
Saat kita nyenyak tertidur dan meninggalkan sholat Layl…
Saat kita berlalu begitu saja meski ada seorang peminta di hadapan kita…
Saat kita menggeser saja kotak infaq yang melewati kita…
Saat kita lebih memilih nonton TV daripada tilawah…
Dan saat kita melakukan maksiat-maksiat lainnya…

Demi Allah, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang telah engkau dustakan?

Luruskan niat… Biarkan hanya Allah yang menyemangati kita… Biarkan hanya padaNya saja kita berbangga,, Tak ada lain…

<sigh>